Hal Baru

                             
 


     Senja  mulai menjemput matahari untuk muncul. Pagi itu aku mulai melakukan kebiasaanku untuk menuntut ilmu. Ya, namaku Nilam Azzahra mereka sering memangilku Nilam. Aku terlahir dari keluarga kecil yang agamis, kedua orang tuaku mengirim aku untuk meghabiskan masa smp ku di pesantren . Tidak ada kata buruk disini, aku merasa semua yang orang-orang lakukan sangat bermanfaat dan membuat kita mandiri. Seperti keseharian yang telah biasa kulakukan disini, pagi buta sekali kami sudah harus bangun untuk melakukan shalat malam, mengaji,mendengar pak kiayi bertausiyah dan masih banyak lagi. Apa lagi ada satu kegiatan yang paling ku sukai, yaitu menghafal Al-qur’an. Karena orang tuaku telah menyekolahkan aku hingga sampai saat ini, juga mengurusku dengan cinta dan kasih sayang tulus mereka, aku ingin memberikan mahkota dan jubah yang sinarnya melebihi sang mentari itu kepada kedua orang tua ku dan jalannya hanya satu yaitu menjadi seorang hafidz. Maka dari itu aku selalu bersemangat, berusaha, rajin, dan tekun untuk menghafal qur’an sehingga sesegera mungkin aku dapat mewujudkan mimpiku itu. Biar ku ceritakan kisah disini, aku banyak belajar tentang kehidupan lewat pesantren ini, kebersamaan selalu meyertai kami, biar ku kenalkan kalian dengan sahabat-sahabatku disini , yang cantik tapi jahil itu namanya Naura, yang mukanya kearab-araban itu namanya Azizah, yang suka melucu itu namanya Kaila, dan yang paling dewasa, kalem, pendiam, juga sudah kami anggap sebagai kakak kami sendiri itu namanya ka Mia. Tanpa mereka aku tidak akan senyaman ini seperti sekarang, banyak cerita kebersamaan yang mungkin akan selalu ku kenang saat semua ini berakhir, sebelum tidur kami bersanda gurau, apabila ada salah satu dari kami sedih kami akan setia menghiburnya, makan selalu dengan formasi anggota yang lengkap dan masih banyak lagi kisah yang lebih menarik dari itu. Oh iya aku belum menceritakan diriku yang termasuk salah satu siswa yang pintar di pesantren ini, ya aku berusaha untuk membanggakan kedua orang tua ku dengan berprestasi. Waktu terus berlalu dan masa lulus pun datang, entah apa yang dapat aku pikirkan antara sedih dan senang campur aduk di dalam hati ini.
“Nilam, selamat kelulusan.. semoga kamu bisa lebih berhasil setelah dari sini. Apapun keputusanmu aku dan mereka akan selalu dukung kamu, kamu sahabat yang hebat! segudang prestasi dan kepandaianmu menghafal qur’an akan memudahkan kamu menuju masa depan gemilang. Aku yakin itu lam” Kata Naura.
“iya Nilam, kami selalu mendukungmu.. tapi jangan pernah lupakan kami” Kaila menanggapi.
Ya inilah momen dimana saat mereka mengetahui rencanaku untuk melanjutkan masa smaku ke sekolah sma formal, sungguh berat untuk mengambil keputusan ini melihat teman-temanku yang bersedih hati, namun kalau tidak sekarang kapan lagi aku dapat menguji kemampuanku di lingkungan formal dan dengan berat hati aku harus tetap melanjutkan keputusanku ini.
“terima kasih sahabat-sahabatku,, aku gak akan lupakan kalian dan juga aku akan doa kan kalian juga supaya sukses dan kita bisa kembali bertemu pada saat kita sudah sama-sama sukses” Kataku.
Mengenai rencanaku melanjutkan ke sekolah formal, aku mengingat ketika aku membicarakan niatku ini dengan ayah dan ibuku di pagi itu di ruang tamu.
“Ayah ibu, ada yang hendak Nilam bicarakan, bolehkah?.” Tanya Nilam hati-hati.
“Tentu saja nak, memangnya kamu mau bicara apa?.” Tanya ayah penasaran.
“Ayah, Nilam punya rencana melanjutkan masa sma Nilam ke sekolah sma formal apa boleh?.”
“kenapa begitu tiba-tiba sekali lam? Ayah agak terkejut sama keputusanmu, kenapa tiba-tiba pindah haluan begini?.”
“iya nak, ibu juga kaget, kok tiba-tiba banget?.”
“ Ayah Ibu, aku pengen itu bukan gak ada alasannya aku pengen ngukur sama nguji kemampuan aku di lingkungan formal, aku juga pengen nguji apakah aku bisa tetep ngebanggain kalian dengan prestasi-prestasiku saat aku disana sama seperti di pesantren. Tolong yah, bu izinkanlah aku.”
“Ayah sama ibu gak akan maksa kamu, dan selalu berusaha dukung kamu nak, tapi kalau kamu milih sekolah formal, cadar indah diwajah kamu harus terlepas begitu saja. Apa kamu bersedia?.”
“yah, yang namanya usaha pengen jadi orang sukses pun butuh pengorbanan bukan? Kalau ayah tanya aku seperti itu tentu saja gak akan ada wanita yang siap untu melakukan itu, tapi aku berjanji hanya sementara, dan hanya kali ini, sampai penjelajahanku berakhir aku akan kembali dan menjadi manusia yang lebih baik dan lebih membanggakan lagi. Pegang janjiku ini ayah, ibu.”
“kamu sudah dewasa sekarang, dan ayah yakin kamu tau jalan mana yang baik untukmu, dengan begitu ayah izinkan kamu dan peganglah janjimu itu nak.”
“iya ibu juga percaya sama Nilam”
“makasih Ayah Ibu aku sayang kalian”
Yah, begitulah sekiranya sekarang aku bisa merealisasikan keinginanku.
   Untuk ukuran hari pertama disana cukup menyenangkan dan  tidak terlalu buruk, aku langsung bisa mendapatkan teman-teman yang baik. Sungguh lucu, mereka sangat terbuka dan cerewet. Mereka memintaku untuk membantu mereka belajar bahasa arab, tentu aku akan sangat senang hati membantu mereka.
   Aku mulai mengikuti suatu ekstrakulikuler karena sekolah mewajibkan setiap siswa untuk    mengikutinya, aku mengikuti ekskul Rohis, dan dari sinilah aku mulai merasa perbedaan mendominasi kami. Tidak hanya dalam ekskul tersebut bahkan dalam keseharian siswa-siswinya sangat berbeda-beda terutama dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Ya, kami memang sama-sama melaksanakan shalat, tetapi aku dapat melihat beberapa orang yang melaksanakan shalatnya dengan gerakan yang berbeda dari yang aku ketahui selama ini, dan kini itu cukup mengganggu melihat kebiasaan mereka yang berbanding terbalik denganku terutama saat orang tersebut berada disebelahku dan sama sama sedang melaksanakan shalat, aku jadi kurang khusyuk dengan yang dia lakukan itu, bukan hanya itu bahkan paham-paham mengenai sesuatu, orang-orang disanapun berbeda-beda, jujur itu berhasil membuat aku kebingungan tentang bagaimana sebenarnya beribadah yang  sesuai dengan yang telah Allah ajarkan? Aku sampai memikirkannya berhari-hari dan mencoba mendapatkan jawabannya dari diriku sendiri, setalah menimbang, aku mulai paham perbedaan adalah hal yang wajar, dan tanpa itu keberagaman tidak akan pernah terjadi dan ketika kamu mulai kebingungan, ingat suatu prinsip bahwa apapun yang kamu lakukan saat ini, yang sudah menjadi kebiasaanmu, selama kamu yakin itu baik dan benar, maka itulah yang paling benar. Bahkan memaksa mereka sekalipun mengikuti caramu tak akan menghasilkan perdamaian, setiap orang punya keyakinannya masing-masing, jalani semuanya apa adanya dan sesuai jalannya.
Tak hanya itu, kisah yang orang-orang sering lontarkan terjadi padaku juga. ASMARA, saat di pesantren bahkan kata itu jarang terlontar, dan kami selalu fokus belajar tanpa pernah berfikir ke arah situ, dan di sekolah formal setiap laki-laki maupun perempuan bebas berkeliaran di lingkungan sekolah, berbeda dengan di pesantren. Pertama kali dalam hidupku aku terpesona hanya melihat wajah tak begitu tampan namun rupawan itu. Biar ku ceritakan bagaimana rupanya. Seperti yang kukatakan, mungkin jika dibandingkan masih banyak yang lebih-lebih tampan, namun sekali saja kau melihat wajahnya, ada pesona tersendiri dari paras indah ukiran Tuhan itu. Dan saat kamu melihat binar matanya seolah bersinar bagai bintang yang berbicara, binar itu tak begitu kilau, namun begitu meneduhkan bak sorenya senja. Lalu hidungnya? Harus kupertanyakan lagi, itu hidung atau perosotan bermain? Bahkan hidungku saja kalah mancungnya. Dan saat dia tersenyum simpul seolah aku melihat cekungan sabit yang menyapa hatiku. Sangat manis. Bukankah mustahil bagiku untuk tak terpikat? Tunggu. Bicara apa aku barusan? Tidak tidak.
“oh kau anak baru dari pesantren itu ya? Kau Nilam kan? Kenalkan aku Adam, kelasku tepat disebelahmu jikalau kamu mau mencari kesana saja” sapa Adam.
“kau tahu namaku? Memangnya kenapa aku mencarimu?” tanyaku heran.
“loh memangnya aku bilang kalau kamu mau mencariku? Aku bilang kalau kamu mau mencari kesana saja” jelas Adam.
“Iya maksudmu aku bisa kesana kalau mau mencarimu kan?”
“bukan mencariku, kamu bisa kesana jikalau kamu mau mencari hatimu yang berhasil ku curi detik ini juga”
 Perkataan sederhana meberikan efek tak terduga, mengapa detak jantungku bak berdisko? kali pertama kurasakan pipiku direbus, panas begini? Bahkan aku juga bingung untuk menjawab apa.
“a...apa?” aku dengan terbata-bata.
“ ah... tidak-tidak Nilam, aku hanya bercanda, tenang saja aku bukan duplikatnya Dylan kok,, ku harap kita bisa berteman baik setelah ini yaa? Sampai jumpa” ucap Adam dengan tertawa.
Bahkan tawanya pun terasa merdu didengar, ah aku terlalu berlebihan. Tapi bukankah ini termasuk pertemuan pertama yang menarik? Dia pria yang sangat lucu dan humoris, berteman dengannya pasti menyenangkan bukan? sekaligus akan membuat jantungku lelah karena melompat-lompat terus dari tempatnya, meskipun begitu aku menyukainya. Dan mulai sekarang pasti aku akan mempunyai hobi baru, menantikan kehadirannya dengan senyuman manisnya itu. Dan aku mulai paham, ternyata menyukai seseorang itu sebuah kewajaran dan hal yang sudah lumrah, terkadang dalam kehidupanmu akan ada warna-warna baru untuk melengkapi sempurnanya kisahmu dan kamu harus mencoba terbuka untuk menjalaninya asalkan tak lupa masih ada tangan sang Maha Kuasa disana.

Komentar

  1. Wuihh berbakat
    Lanjutkan vaell 😍

    BalasHapus
  2. Cerpennya bagus, tetapi alangkah lebih baik jika cerpen fokus pada sebuah konflik dan sedikit didramatisir.
    Lanjutkan menulis Elva 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapp teh nida 😉😉 makasih teh sarannya😊😊,elva akan memperbaikinya dikarya elva selanjutnya..

      Hapus
  3. widih bagus2 lanjutin va El 😄😄

    BalasHapus
  4. Wahhh berarti aku berhasil meyampaikan ceritanya dong dek �� sampai buat km jd flashback..

    BalasHapus
  5. Sukaaa😍 ditunggu lanjutannyaaa

    BalasHapus
  6. Mantappppppppp Aku suka banget iniiiii

    BalasHapus
  7. Sukaa... 😊ditunggu kak Kelanjutannya...

    BalasHapus
  8. Hal baru bisa didapet dimana aja ya ternyata. Kereeeen

    BalasHapus
  9. Suka deh pokoknya sama ceritanya

    BalasHapus
  10. Bagus ceritanya.. hanya saja tipografinya sedikit membuat kurang nyaman dalam membaca,,, semangat terus ya.

    BalasHapus
  11. Woaa, cerita islami 👍 kata katanya ngena.. mantap. Terus berkarya kawan ..

    BalasHapus

Posting Komentar