Novel "Gasla"

                     🌺BAGIAN SATU🌺

     “kalau cinta memang enggak perlu    alasan, kenapa putus harus beralasan?”


“Aku mau kita putus” Lantang Bagas pada Lola sambil menatap binar itu penasaran akan respon apa yang ia akan dapatkan dari Lola dibelakang taman sekolah.
Hening sejenak, seolah Lola sedang mencerna baik-baik kata apa yang baru saja ia dengar. Ditatapnya pemuda dihadapannya itu dengan begitu lekat.Kemudian dengan mantap ia menjawab.
“yaudah kalau itu yang kamu mau” jawabnya singkat sambil membalikkan tubuh dan berjalan meninggalkan lawan bicaranya.
“kamu gak nanya kenapa aku minta putus la?” teriak Bagas tak habis fikir melihat punggung gadis mungil itu mulai menjauh.
Gadis yang dipanggil Lola itupun menghentikan pergerakannya, lalu ia berbalik menatap pria itu dalam jarak yang sedikit lebih jauh dari sebelumnya.
“aku gak bisa maksa, kamu yang nembak aku dan kamu juga yang putusin aku. Kalau kata kamu cinta gak butuh alasan. Aku anggap kamu minta putus pun gak butuh alasan”. Tutur gadis itu lagi.
Sekarang giliran Bagas yang menatap lekat-lekat iris mata coklat terang milik Lola sambil memperkecil jarak diantara mereka.
“kamu enggak marah aku putusin? Atau kamu engga pernah cinta ya sama aku?” tanya Bagas masih tak terima.
Gadis dihadapannya itu semakin menghela nafasnya.
“aku cuma nurutin mau kamu” katanya berjeda. Lola mulai memundurkan tubuhnya dari jarak sebelumnya yang sempat sangat dekat.
“sekarang, jarak ini yang lebih pantas untuk kamu dan  aku” sambungnya lagi sambil membalikan tubuh kembali dan berlalu pergi meninggalkan lelaki yang masih termagu itu.

Siang itu di kelas.
“ihhh!! Kesel banget sih. Gue tuh mutusin dia bal!! Denger lo? Ini gue mutusin dia loh. Kok segampang itu dia nerima kalau gue mutusin dia?!!” Sungut Bagas masih belum terima.
“lo tuh kenapa sih gas? Lo sakit yaa?”ceplos Iqbal teman sebangku Bagas sambil meraba kening Bagas.
“lo yang putusin dia, kok lo yang sensian sih?” lanjutnya lagi keheranan.
“ya enggak gitu!! Seenggaknya ada rasa enggak mau pisah gitu ke, sama gue. Ini mah adem ayem aja, kayak sebelumnya kita gak pernah punya hubungan yang spesial gitu” bela Bagas.
“Terus lo maunya Lola gimana?? Salto gitu dihadapanlo? Jungkir balik? Atau sujud dikaki lo, mohon-mohon supaya lo gak jadi mutusin dia gitu?” geram Iqbal tak habis fikir.
“ya engga gitu, nanya ke apa alasan gue mutusin dia atau bilang apa kek” jawab bagas masih tak mau kalah.
Remaja yang disebut Iqbal itu kini tak berkomentar, ia hanya masih setia mendengar cerocosan lelaki dihadapannya.
“awas aja yaa!! Akan gue buat dia kepanasan dan nyesel nyuekin gue” lanjutnya lagi dengan mantap.
“Gas, kayaknya lo beneran suka deh sama cewek itu” tutur Iqbal.
 
                     🌺BAGIAN KEDUA🌺

          “apa salahnya kau bilang mulai    mencinta? Dari pada terus berego dan

         terjebak dalam labirin cinta yang

                membuatmu menderita”


Mentari itu mulai menampakkan pesonanya. Namun berbeda dengan  remaja 18 tahun itu, alih-alih tak terpikat dengan pesonanya mentari, Bagas malah masih setia pada pulau kapuknya di dalam kamar bernuansakan putih-biru bertemakan doraemon itu, padahal teriknya sudah terasakan ke seluruh tubuhnya. Oh atau bahkan itu bukan pulas? Entah kenapa sejak kejadian hari kemarin nampak ada hati yang begitu mendung dirasakan lelaki itu. Entahlah ia tak mengerti dengan begitu ia memilih untuk tak beranjak dari kasur kingsize nya.
“Den, udah siang.. aden Bagas mau sekolahkan? Bibi udah siapin sarapan di bawah “ ucap wanita berumur setengah abad itu yang selama ini menemani Bagas.
“ia bi, taro aja entar Bagas turun sebentar lagi” jawabnya masih dengan mata terpejam.
Diwaktu yang bersamaan gadis mungil itu sudah terbangun sebelum sang surya menyapanya. Tidak ada hati mendung yang ia rasakan, seolah sudah terbiasa dengan segala yang telah terjadi. Dia Lola. Gadis pendiam yang sering disebut aneh seantero sekolahan. Dia tak pernah punya teman. Dan saat dia mulai memiliki kesempatan mendapatkan Bagas, Lola tak merasa sendiri lagi, Bagas sangat baik kepadanya, disaat orang-orang mencelanya, Bagas akan menjadi orang terdepan yang membelanya.Namun semua kenangan itu hanya tinggal sebuah nama, kemarin Bagas telah memutuskan hubungan mereka. Bukan, bukan Lola tak pernah tahu alasannya. Tak jarang orang-orang disekolahnya memberitahu bahwa Bagas tak pernah cinta kepadanya. Bagas hanya ingin menjadikannya sebuah taruhan. Semua kata-kata itu senantiasa Lola tepis, Lola sangat percaya pada bagas dan saat kejadian kemarin, Lola sadar bahwa Bagas memang tengah mempermainkannya. Dan Lola harus mengakhirinya. Tak apa, Lola hanya perlu kembali seperti dulu, Lola yang selalu menyendiri.
Bel istrirahat nyaring terngiang di telinga para manusia-manusia yang tengah kelaparan itu, mereka mulai berlarian menuju kantin yang sudah merupakan surga bagi mereka untuk saat ini.
“eh, lo bertiga mau pesen apa?” tanya Bagas.
“Ha? Bertiga?” jawab Iqbal keheranan.
“kita bertiga ame elu Bagas!!dasar bege lu” lanjut Iqbal lagi.
“oiya hehe sorry-sorry gue lagi nggak konsen”. Jelasnya.
“dasar Bambang” Elleanor ikut menimpali.
“wih-wih lo mau traktir kita ceritanya?” tutur Elleanor lagi, teman se genk Bagas.
“uhh Bagas baik banget hari ini...” timpal Iqbal.
“Apaansi kalian berdua? Siapa yang mau traktir, gue mah sekedar nanya doang.. ya masa kalian ke kantin kelaperan ga mesen apa-apa?” sanggah Bagas.
“yeh dasar onta arab!! Gue udah geer juga!” kesal Iqbal.
Saat sedang seru-serunya mereka bersanda gurau, bola mata itu menangkap sosok seseorang, seseorang yang sempat menjadi gadisnya dulu. Gadis itu kembali seperti dulu, menjadi seseorang yang selalu menyendiri lagi dan lagi.
“weyy minta perhatian semuanya!!!” teriak Bagas diantara kerumunan siswa-siswi dikantin. “Berhubung gue baru jadian sama Elleanor, gue mau neraktir kalian itung-itung ngerayain hari jadi kita” ucapnya lantang sekenanya.
Elleanor yang sedang meneguk orange jus nya itu tersentak hingga terbatuk.
“ukhuk” sambil tak percaya menatap bola mata Bagas. Entahlah yang Elle tangkap hanya sebuah bom kedipan ditujukan Bagas kearahnya. Sandiwara apalagi Tuhan, yang akan Bagas perbuat.
Dan Iqbal mulai tahu alasannya.
“lo apa-apaan si gas ngomong yang enggak-enggak di depan anak-anak??” bisik Elle. Disaat semua siswa mulai kembali tenang dan mengambil makanan yang katanya gratis.
“Ell sekarang lo diem aja deh, gausah banyak omong ikutin kata gue dulu” jawabnya lagi dengan berbisik.
Iqbal hanya diam, hendak melihat apa yang akan terjadi setelah ini.
“Ell lo katanya abis jatoh yaa?” tanya Bagas sekencang mungkin. Elle tak begitu paham akan apa yang Bagas katakan, namun ia akan mencoba mengikuti alur permainan Bagas.
“engga kok” jawab Elle ragu-ragu.
“loh masa? Berarti lo bisa jalan dong?” tanyanya lagi.
“ya bisalah gas” tutur Ell
“wah bagus kalau gitu, mau kapan nih?? Besok bisa??” rayu Bagas.
Jijik. Satu kata itu yang kini sangat ingin Elleanor lontarkan pada curut itu.
“bisa aja lo gas” jawab Elle masih mengikuti apa kata Bagas.
“sekarang cepet tanya asal gue dari mana, yang keras cepet!!” bisik Bagas pada Elle yang masih tak paham.
“ha? lo.. tuh asli dari mana sih gas, kok bisa ada orang se sweet ini?” tanya Elle ragi-ragu. Sekeras mungkin.
“lo engga tau gue dari mana? Gue dari Jawa ell,” jawab bagas setenangnya.
“Ha?? Seriusan??” Jawab Elle antusias.
“iya seriusan gue ini dari Jawa... Jawa...ban atas do’a-do’a lo!!” ucapnya sekeras mungkin sambil bola matanya tak pernah ia palingkan dari Lola.
Tak berapa lama kemudian, Lola mulai beranjak dari kursih kantin yang sempat ia duduki sambil mendengar tuturan Bagas sejak tadi. Tidak, kini dia sudah tidak perduli dan tidak pantas perduli lagi. Lola hendak membayar apa yang sudah ia beli dan sesegera mungkin menghampiri pemilik kantin yang letaknya harus ia lewati dulu gerombolan dari geng Bagas itu.Lola harus mampu melewatinya.
Bruukkk.... tubuh itu terhuyung  kedepan setelah Bagas yang sempat menjadi lelakinya dulu menghalangi jalan Lola dengan kakinya.
“ups!! Sorry gue enggak sengaja. Lo gapapa? Eh lo si mantan kan?” ucapnya tak berperasaan.
Lola tak menanggapinya. Secepat mungkin ia bangun dan sesegera mungkin ia membayar lalu pergi begitu saja.
“gue mau ke toilet dulu” Ucap Bagas mengisi keheningan diantara mereka bertiga, hendak berlalu pergi.
“Bal, kayaknya dia enggak sadar  mulai cinta sama cewek itu deh” Tutur Elle miris melihat kelakuan Bagas.
           
                     🌺BAGIAN KETIGA🌺

         “sudah ku tahu memendam rasa

       untukmu begitu menggebu, namun

          masih pantaskah daku memberi

     rindu, sedang kamu tak lagi milikku?”

Pagi itu disekolah.
“Eh gas!! Tau nggak lo kalau si Lola sekarang lagi deket sama cowok deh” seruan Iqbal
“oh ya? Kenapa lo ngomong kayak gitu ke gue segala? Emang apa urusannya sama gue?” Jawab Bagas setenangnya.
“ya engga, cuma mau ngasih tau doang kali gas, takut lu mau tau” jelas Iqbal.
“Apaan sih lo bal! ga jelas banget jadi orang!” Jawab bagas melengos pergi.
“dasar jigong dugong!!  kalau cemburu ya tinggal bilang aja ke!” bicaranya Iqbal pada diri sendiri.
Mungkin hati itu begitu tenang tatkala orang lain mengatakannya. Namun sejujurnya hati itu kini kian bergejolak, membara dengan langkah tak berarah namun terburu itu.Dan anehnya Bagas seolah sangat gerah tak bersebab. Dan semenjak hari itu, Bagas tahu lelaki yang Iqbal sebut dekat dengan Lola. Dan semakin lama Bagas semakin mengetahui hubungan mereka tak biasa.
“Eh lo berenti!!” Ucap Bagas setelah lumayan lama ia berdiri di gerbang sekolah.
“Lo manggil gue?” tanya cowo sebaya itu.
“Iya gue manggil lo” jawab Bagas secepat mungkin.
“Emang kita kenal ya? Lo ada perlu apa mau ngomong sama gue?” heran Alvin.
“Lo cowok yang lagi deket sama Lola kan?” tanya Bagas sarkatis tak basa-basi lagi.
“Apa urusanlo?” Jawab Alvin menantang.
“kenapa juga gue harus jelasin ke lo urusan gue apa sama dia?” tuturnya tak kalah menantang
“gue minta lo jauhin Lola mulai sekarang!! Sebelum lo nyesel!!” Ancam Bagas dengan tatapan menghunusnya.
“emang lo siapanya hah??” pacarnya?? Bukan juga kan? Jadi lo enggak punya hak untuk ngelarang gue ngedeketin Lola. Jelasnya membuat Bagas bungkam seribu bahasa.
Dan Alvin meninggalkannya begitu saja.
“Apa sekarang gue mulai nyesel putusin dia?” Tanya Bagas pada dirinya sendiri.
Sore itu saat seluruh siswa meluruh untuk saling kembali kerumah masing-masing. Saat itu Bagas hendak pulang melewati lorong sekolah. Samar-samar ia mendengar suara wanita menggema, dan Bagas mulai mendekati sumber suara itu.
“Lo cewe aneh!! Jangan pernah sekali-kali lagi deketin Alvinnya gue!! Paham lo?!! Ancam Wanita itu.
Bagas tersentak melihat kejadian tersebut, Lola yang sempat menjadi gadisnya kini dalam keadaan yang sangat mengenaskan, tangannya ditahan erat-erat oleh dua wanita pesuruh itu. Dan seragamnya sudah penuh dengan taburan tepung telur yang sangat anyir baunya.
“Angel!! Seru Bagas mendekati mereka dengan berlari.
“Bagas!! Lo ngapain disini?!” kaget Angel dan teman-temannya.
“gila ya lo?!! Berani-beraninya lo lakuin ini sama dia?! Gue akan laporin ini ke kepsek” tutur Bagas dengan sarkatis.
“Jangan gas, gue mohon.. gue bisa jelasin” Bela Angel.
“alah!! Gue gak mau denger penjelasan lo!! Gue peringatkan sama lo, gaboleh ada lagi orang yang ngebuli Lola selain gue!! Kalau lo dan orang-orang tetep maksa ngelakuin itu kalian akan tanggung sendiri akibatnya!! Ancamnya lagi.
“Lola!! Ayo ikut aku” tangan itu mulai menggenganggam jemari gadis itu. Dibawanya gadis itu dengan terburu.
“Gas berenti!!” Ucap lola sambil melapaskan dengan kasar genggaman itu.
“Kenapa Lola?” heran Bagas.
“kamu ngapain sih ikut campur urusan aku?” tanyanya sarkatis.
“la aku Cuma mau nolongin kamu, itu aja enggak lebih” jelasnya.
“kita ini udah putus gas!! Kamu engga berhak sok peduli lagi sama aku!! dan aku enggak butuh bantuan kamu!!” Jawabnya melengos pergi meninggalkan Bagas yang masih tak percaya.
“Lola..kayaknya aku mulai kangen kamu” tuturnya lirih.

Sore berikutnya Lola gadis beperawakan mungil itu menyusuri jalanan dengan kaki nya untuk segera pulang kerumah.saat menyusuri langkah demi langkah terdengar deru motor melaju kencang dan menyipratkan air keruh yang ditinggalkan hujan tadi siang kearah Lola.
Prattttttttttttt!!
“ahh seragam aku kotor” kesalnya.
motor itu berhenti tepat dihadapan Lola. Dan menampakan paras tak asing disana. Dia Bagas, yang entah mengapa semenjak putus dengannya, Bagas menjadi orang yang lebih menyebalkan dari sebelumnya.
“Aduh la.. sorry aku sengaja” tuturnya tanpa dosa kemudian memakai kembali helm nya dan melaju pergi. Bolehkah untuk kali ini Lola mengumpat?.
Lola mulai tidak perduli dengan seragamnya kini. Yang  hanya menjadi tujuannya saat ini adalah sampai ke rumah meski jarak itu masih sangat jauh. Namun samar-samar Lola mendengar deru motor kembali, dan semakin lama semakin dekat suara itu. Benar saja dia orang yang sama.
“kenapa lagi?” geram Lola.
“aku mau anter kamu pulang” tutur Bagas.
“ga usah” jawab Lola singkat sambil melanjutkan perjalanannya.
“kamu tuh sombong banget sih!! Ditolongin gak mau. Yaudah kalau gitu aku mendingan pergi aja dari tadi, ngapain aku balik lagi” Ucap Bagas emosi segera melajukkan motornya dengan cepat. Belum sampai 1 menit motor yang Bagas lajukan hilang kendali dan Bagas terjatuh dari sana.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Brakkkkk!
Lola keget setengah mati melihatnya. Tak banyak berfikir lagi Lola segera menghampiri Bagas yang sedang kesakitan disana.
“Bagas kamu engga papa?” tanyanya dengan nada khawatir sambil memegang pundak Bagas.
“kepala aku sakit banget la” jelas Bagas.
“Ayo aku bantu berdiri gas” tuturnya sambil merangkul tubuh Bagas dan membawanya ke tempat duduk ditepian jalan. Lola tak tinggal diam, ia terus mengusap lembut kepala Bagas. Tanpa Lola Perduli yang sebetulnya Bagas tengah menatapnya lekat.
”Bagas! kamu engga pernah berubah ya dari dulu, selalu ceroboh gini! Geram Lola.
“maaf gas! Aku jadi marah-marah begini sama kamu, kamu pasti kaget kan? Aku beliin minum sebentar buat kamu” sambungnya lagi sambil berbalik hendak pergi. Namun jemari itu digenggam paksa oleh bagas tak memberi sedikitpun jeda, Bagas dengan cepat menarik tubuh gadis itu kepelukannya. Ya.. Bagas kini tengah memeluknya begitu erat. Gadis itu tak mampu berkata dan mulai menghirup aroma khas lelaki ini, aroma yang sempat sangat ia sukai.
“la, aku kangen suara kamu.. aku kangen liat senyum kamu..aku kangen diperhatiin kamu.. dan aku rindu kamu la” tuturnya lirih tetap terus mengeratkan pelukannya.gadis itu kini melepaskan pelukan hangat itu dengan kasar.
“semudah itu kamu bilang rindu sama aku setelah apa yang udah kamu lakuin sama aku gas?”Tanya Lola dengan nada tak terima.
“aku minta maaf la, aku bahkan udah terima konsekuensinya, aku sangat menderita jalanin hari-hari aku tanpa kamu disisi aku la! Aku mohon sama kamu.. kasih aku satu kesempatan lagi untuk jadi pacar yang sempurna buat kamu. Aku cinta sama kamu la.” Ucapnya memohon.
“oh iya, aku hampir lupa kamu sekarang udah sama Alvin kan la? Aku begitu bodoh pernah lepasin kamu.percuma juga aku ngomong kayak gini sama kamu” tuturnya dengan nada menyerah, kini lelaki itu mulai memundurkan tubuhnya selangkah namun dengan cepat gadis dihadapannya itu merangkulkan kedua tangannya dileher Bagas. Lola kini yang memeluknya.
“Aku mau maafin kamu gas!! Aku juga masih cinta sama kamu” tuturnya sambil terisak.
“Alvin itu sepupu aku, gak pernah ada yang bisa gantiin posisi kamu di hati aku gas” sambungnya lagi.
Dalam pelukan itu Bagas tersenyum mendengar penurutan Lola si gadisnya lagi mulai detik ini. Bagas membalas pelukan itu lebih erat dari sebelumnya.
“akupun sama, aku enggak punya hubngan apapun sm Elle la, karna nyatanya kamu masih menduduki singgasana ratu di hati ini. Ucapnya mulai mengusap lembut puncak kepala Lola.
Disaat ada hati yang teluka, ada hati lain pula yang ikut terluka. Dan disaat ada yang berjuang untuk melupakan, ada raga lain pula yang ikut mencoba melupakan. Sejauh apapun  ia terpisahkan, cinta tahu kemana harus pulang.









             

Komentar

  1. Ini belum tamat , kan ?
    Jadi, lanjtukang. .
    Semangat penulis...

    BalasHapus
  2. Wahh.. Cerita nya aajiib.. Cocok nih untuk remaja seusia kita, ciyee kita:v

    BalasHapus

Posting Komentar